Indeks Inklusi Digital Tunanetra Indonesia

For International Researchers & Development Agencies: View the live interactive portal with provincial disaggregation in English.


English Interactive Portal (EN) →

Tentang Indeks Inklusi Digital Tunanetra Indonesia

Indeks Inklusi Digital Tunanetra Indonesia (IID-TI) adalah instrumen pengukuran empiris pertama di Indonesia yang memetakan kesiapan, adopsi teknologi asistif, konektivitas internet, dan penguasaan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence) bagi penyandang disabilitas netra.

Dikembangkan oleh Departemen Riset dan Teknologi Dewan Pengurus Pusat Persatuan Tunanetra Indonesia (DPP PERTUNI), indeks ini terintegrasi secara real-time dengan pangkalan data sensus anggota digital di 35 Dewan Pengurus Daerah (DPD) tingkat provinsi dan 293 Dewan Pengurus Cabang (DPC) tingkat kabupaten/kota di seluruh tanah air.


Data Real-Time KTA Digital

Indeks Inklusi Digital Tunanetra Indonesia

Berdasarkan survei empiris 50 anggota aktif terverifikasi di seluruh Indonesia.

Indeks Komposit
63.8%
Tingkat: Berkembang

Capaian 5 Pilar Inklusi Digital Nasional:

Akses & Kepemilikan Gawai 92.8%
Kemandirian Screen Reader 85.5%
Konektivitas Internet Stabil 67.0%
Pemanfaatan Produktif Mandiri 54.8%
Adopsi AI & Teknologi Cerdas 19.1%

Jelajahi analisis data mendalam, visualisasi radar interaktif, rekomendasi kebijakan, serta filter spesifik per provinsi.

Buka Portal Data Interaktif (KTA) →

Urgensi dan Tujuan Pengukuran

Di era percepatan transformasi digital, kesenjangan akses (digital divide) yang dihadapi tunanetra tidak lagi sekadar persoalan memiliki atau tidak memiliki gawai. Tantangan utama telah bergeser ke:

  • Kemandirian Pembaca Layar: Sejauh mana tunanetra mampu mengoperasikan komputer dan ponsel pintar secara mandiri menggunakan perangkat lunak pembaca layar (screen reader) seperti NVDA, JAWS, TalkBack, atau VoiceOver.
  • Beban Biaya Kuota Internet: Aksesibilitas screen reader dan pembaca teks-ke-suara (TTS) membutuhkan konsumsi data stabil yang sering kali membebani penyandang disabilitas dari kelompok ekonomi rentan.
  • Pemanfaatan Produktif vs Konsumtif: Mendorong peralihan penggunaan gawai dari sekadar hiburan dan media sosial menuju sarana pendidikan inklusif, pekerjaan profesional, dan kewirausahaan mandiri.
  • Adopsi Kecerdasan Buatan (AI): Memanfaatkan teknologi visi cerdas (computer vision) dan asisten generatif untuk membaca dokumen cetak, mengenali lingkungan, dan meningkatkan produktivitas kerja.
  • Aksesibilitas Ekosistem Web/Aplikasi: Menegakkan kepatuhan Web Content Accessibility Guidelines (WCAG 2.1 AA) pada seluruh layanan publik pemerintah dan perbankan di Indonesia.

Data empiris ini dirancang sebagai rujukan ilmiah bagi Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi), Bappenas, Kementerian Sosial, institusi perbankan, penyedia teknologi, serta akademisi dalam merumuskan kebijakan afirmatif yang tepat sasaran.

Metodologi dan 5 Pilar Pengukuran

Indeks dihitung menggunakan skala komposit berbobot seimbang (0 sampai 100) yang merangkum 5 dimensi fundamental inklusi digital:

Pilar 1 (Bobot 20%)

Akses & Kepemilikan Gawai

Mengukur ketersediaan ponsel pintar, komputer jinjing/laptop, atau perangkat adaptif lainnya yang dimiliki atau diakses anggota.

Pilar 2 (Bobot 20%)

Kemandirian Screen Reader

Menilai kemandirian navigasi dan penguasaan gestur perangkat lunak pembaca layar tanpa bergantung pada bantuan pihak luar.

Pilar 3 (Bobot 20%)

Konektivitas Internet Rutin

Mengevaluasi stabilitas sambungan data seluler, Wi-Fi rumah, serta keterjangkauan biaya paket kuota internet berkala.

Pilar 4 (Bobot 20%)

Pemanfaatan Produktif

Tingkat utilisasi teknologi untuk aktivitas mandiri: pekerjaan profesional, pendidikan formal, transaksi perbankan, dan e-commerce.

Pilar 5 (Bobot 20%)

Adopsi Kecerdasan Buatan (AI)

Penggunaan teknologi AI asistif (seperti Be My AI, Seeing AI, ChatGPT) untuk navigasi mandiri, pembacaan dokumen, dan produktivitas harian.

Klasifikasi Tingkat Kematangan Inklusi Digital

Berdasarkan skor komposit yang diraih (skala 0 – 100), kesiapan wilayah dikelompokkan ke dalam 5 tingkatan terstandar:

  1. Tingkat 1: Tahap Sangat Awal (Skor 0 – 20%). Mayoritas penyandang tunanetra menghadapi keterbatasan perangkat gawai dasar serta minimnya literasi pembaca layar.
  2. Tingkat 2: Tahap Dasar (Skor 21 – 40%). Telah memiliki perangkat gawai pribadi, namun pemanfaatan masih terbatas pada panggilan suara dan pesan singkat dasar dengan bantuan pihak ketiga.
  3. Tingkat 3: Tahap Berkembang (Skor 41 – 60%). Menguasai navigasi pembaca layar mandiri dan aktif bermedia sosial, dengan ruang pengembangan signifikan pada adopsi AI dan pekerjaan digital bernilai tambah.
  4. Tingkat 4: Tahap Terintegrasi (Skor 61 – 80%). Memanfaatkan teknologi secara produktif untuk karir, kewirausahaan, serta transaksi finansial mandiri dengan pemahaman teknologi cerdas yang baik.
  5. Tingkat 5: Tahap Berdaya Penuh / Mandiri Unggul (Skor 81 – 100%). Aksesibilitas universal dan literasi teknologi paripurna; aktif menciptakan inovasi serta berpartisipasi setara di masyarakat digital.

Eksplorasi Data Provinsi & Rekomendasi Kebijakan

Kunjungi portal data interaktif KTA PERTUNI untuk menelusuri peringkat per provinsi, visualisasi radar 5 pilar, serta rekomendasi kebijakan afirmatif otomatis berdasarkan capaian riil tiap daerah.

Korespondensi Ilmiah & Kemitraan Data

Bagi akademisi, kementerian, lembaga donor, atau organisasi disabilitas yang bermaksud melakukan kajian bersama atau merujuk data indeks ini, silakan menghubungi:

Dimas Prasetyo Muharam
Ketua Departemen Riset dan Teknologi DPP PERTUNI

Translate »